Wednesday, June 1, 2011

No.207

kalau mau tau contoh anak muda sukses berbisnis, harus kenal pemilik sepatu ini.

di usia belum lagi 30 tahun, dia sudah bisa membuktikan bahwa bisnisnya bisa berjalan dan selain mapan dia bisa membuktikan bahwa dia sukses dengan berbagai prestasi yang dia raih.

baru-baru ini dia mendapatkan penghargaan sebagai seorang yang berbakat di bidang pekerjaannya dari sebuah majalah lifestyle ibukota.

setiap melihat dia, gue berkaca memandang diri gue sendiri... dan memikirkan prestasi apa yang sudah gue capai... apakah gue sudah membanggakan keluarga gue... apakah gue sudah mapan... apakah gue begini... apakah gue begitu...

ketika gue curhat mengenai kegelisahan gue itu, seorang teman berkata bahwa dia capek mendengar semua keluhan gue dan dia bilang kalau gue merasa kurang ada prestasinya, ya gue harus segera berubah, berusaha lebih lagi dari sekarang...

lalu teman yang lain berkata bahwa gue terlalu banyak membantu orang lain dan bekerja buat orang lain padahal sebenarnya sudah waktunya untuk gue bersinar.

jujur aja gue agak sedih mendengar komen mereka...

kenapa ya di dunia ini tidak ada penghargaan untuk usaha gue menjalankan pekerjaan yang sekarang ini yang mana ini adalah sebuah ilmu baru buat gue...

kenapa gak dihargain gue itu lagi merintis lagi dari nol sejak peristiwa tipus dan kecopetan di beberapa bulan lalu.

apa salahnya bantu teman? kan gue juga dapat ilmu baru di hidup gue?

tapi kemudian gue sadar.

Jakarta emang begini.

Prestasi dilihat dari review di media. Dari pergaulan loe dengan siapa. Dari uang yang dimiliki. Dari award apa yang loe dapat. Dari nama loe yang jadi buah bibir di komunitas loe.

Prestasi gak diliat dari hal-hal kecil. Kita pikir itu prestasi, orang lain melihatnya tidak.

Mungkin gue yang salah. Terlalu ketinggian menyimpan standard hidup.

Atau gue terlalu slow... Teman gue udah di manaaaaa, guenya masih jalan di tempat. Trus mereka gemes sendiri melihat gue seperti ini.

Atau se-simple gue salah pergaulan? Mungkin teman yang baik tidak akan komen gak enak, walaupun niatnya baik?

Ah sekali lagi, ini Jakarta. Seperti itulah adanya...

Gue emang harus banyak belajar menerima kenyataan gue belum jadi apa-apa dan dipandang sebelah mata sama banyak orang. Dan gue harus lapang dada menerima keadaan ini, mudah-mudahan gue bisa berlapang dada.

well.... No.207, mudah-mudahan suatu hari nanti gue bisa seperti loe. Sukses. Bekerja di bidang yang sesuai passion. Berprestasi.

Tapi semoga ketika gue sudah jadi orang yang sukses, gue tidak akan memandang rendah, apapun usaha orang, untuk menjalani hidupnya.

No comments:

Post a Comment